Novel GEMULUNG Review

 


BEGITU halaman pertama dibuka, pembaca langsung disergap adegan kejar-kejaran antara polisi diraja Malaysia dan tiga TKI ilegal—dua lelaki, satu perempuan—yang mencoba kabur, kembali ke Indonesia. Bab pertama lajunya begitu cepat, bak adegan film thriller-suspence, membuat penonton, eh pembaca, menahan napas sambil menduga-duga apa yang akan terjadi selanjutnya. Ridho (tokoh aku), Yuda, dan Marlin, berhasil kabur menumpang sebuah kapal pompong yang mengendap-ngendap keluar dari perairan Malaysia.


Kisah yang diangkat dalam novel Gemulung karya terbaru Tary Lestari akan jadi biasa-biasa saja kalau hanya berkisah tentang kaburnya TKI illegal dari Malaysia. Kisah itu sudah banyak kita dengar. Di dalam Gemulung, Tary menciptakan sebuah kisah unik dengan berbagai ketegangan yang membuat pembaca terbenam lebih dalam ke jurang ketegangan yang penuh konflik.

Ketegangan dimulai saat kita disuguhi fakta bahwa Marlin adalah istri Yuda, dan Ridho adalah pria yang diinginkan segala-galanya oleh Marlin, tapi terpaksa menikahi Yuda karena alasan klasik: membayar utang ayahnya ke ayah Yuda. Cuma itu? Ini terinspirasi kisah Sitti Nurbaya-kah? Tentu saja tidak. Kita belum sampai pada ketegangan utamanya: kapal pompong yang juga ditumpangi beberapa TKI ilegal lainnya itu, dihempas badai di tengah samudera, kemudian terdampar di sebuah daratan tak dikenal, dan yang selamat hanya Ridho, Yuda dan Marlin saja.

Bayangkan, tiga anak manusia, yang terjebak konflik cinta segitiga, terkatung-katung di tengah samudra antah barantah, di atas kapal pompong yang mati mesinnya. Pasrah ke mana arus membawa mereka, tanpa makanan, tanpa air dan tanpa harapan. Marlin yang hamil muda juga menjadi pemantik konflik sendiri di antara dua pria ini.

Selesai satu bab, kita seolah diminta berhenti sejenak sambil bertanya, apalagi yang akan dialami tiga insan ini selanjutnya? Bab demi bab memacu emosi, dan selesai dengan akhir yang tak terduga.

Naskah Gemulung terpilih dalam ajang Kelompok Penerbit Renjana Indonesia Mencari Naskah 2020 dan diterbitkan oleh Penerbit Indonesia Tera. Sayangnya, novel ini terlalu tipis untuk premis dan plot serancak ini. Fondasi kisah, semisal masa ketika Marlin dan Ridho saling suka, dan masuknya Yuda ke dunia mereka, harusnya dibangun dengan konstruksi yang lebih detil dan dalam, bukan sekadar kilas-balik ingatan tokoh utama ke masa lalu saja. Konflik yang terjadi antara keluarga Marlin dan Yuda, yang membuat Marlin terpaksa menerima Yuda sebagai suami, juga bisa dipilin dan dipelintir lebih jauh, sehingga bisa menghasilkan double-impact yang tentu akan jauh lebih nendang di plot utama.[]

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Novel GEMULUNG Review"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel