IMPERFECT: KARIER, CINTA & TIMBANGAN Review




Tidak mudah jadi sosok yang kurang, apalagi kalau sudah urusan fisik. Ungkapan udah item, jelek, idup lagi sudah sering kita dengar, meski mungkin dilontarkan secara bercanda. Buat yang menerima ledekan itu, meski masih bisa tersenyum, yakin sakitnya akan tersimpan lebih lama. Ungkapan-ungkapan "jahat" itu tidak saja datang dari orang yang tak dikenal, bahkan muncul dari keluarga sendiri. Begitu pula yang dialami Rara (Jessica Mila) tokoh sentral film terbaru Ernest Prakasa. Rara punya kelebihan berat badan di atas rata-rata. Ibu Rara, Debby (Karina Suwandi) bahkan bisa tahu siapa yang sedang turun dari tangga, Rara atau Lulu (adik Rara yang langsing) hanya dari suara tangga yang mereka injak.

Semua orang ingin punya fisik sempurna: cantik/ganteng, putih, tinggi, langsing. Tapi tidak semua dapat karunia itu. Ini jadi beban dan buat Rara ini juga berefek pada karier. Rara punya kesempatan naik jabatan yang baru saja kosong di kantor, karena otak dan prestasi Rara memungkinkan untuk memegang jabatan itu, tapi persoalannya, jabatan itu butuh bukan sekadar kecerdasan, tapi juga penampilan yang sempurna. Rara yang sejak kecil tidak peduli dengan urusan berat badan mendadak tertimpa insecurity. Plot film mencapai puncaknya di sini, ketika Rara yang selama ini pede-pede saja dan santuy tiap kali melihat angka timbangan sambil terus makan banyak dan ngemil cokelat nggak peduli apa kata orang, mendadak jadi sosok yang ketakutan. Dan kecemasan Rara akan dirinya sendiri berefek ke segala lini terutama hubungannya dengan ibu dan adiknya, teman dekat di kantor dan sang pacar, Dika (Reza Rahadian).

Dika sendiri muncul sebagai karakter-cermin dari Rara. Kalau Rara bisa dibilang "jelek" tapi berasal dari keluarga mapan, maka Dika sebaliknya, "ganteng" tapi pas-pasan. Mungkin paduan ini yang membuat cerita jadi unik dan segar, tanpa terlihat dibuat-buat. Ibunya Dika, dan bahkan tiga anak cewek yang indekos di rumah Dika, menerima kehadiran Rara dalam hidup mereka sehangat Dika menerima Rara.

Ini film kedua Ernest yang saya tonton. Di Cek Toko Sebelah, yang makin melambungkan nama Ernest sebagai penulis naskah dan sutradara, Ernest bermain dengan konflik klasik sebuah keluarga pedagang. Ernest piawai memainkan komedi lewat jokes-jokes segar yang dimainkan teman-teman komikanya, yang memainkan karakter para pembantu di toko. Di Imperfect (yang diangkat dari novel karya sang istri) Ernest kembali berhasil menghadirkan humor segar lewat tiga cewek anak kos yang dimainkan juga oleh komika, yang memainkan peran masing-masing sangat natural sehingga benar-benar memancing tawa. Komposisi karakter dan plot yang hadir dalam cerita juga pas takarannya, ada teman-teman Debby yang ngomong pelan dan dikit tapi nyakitin, ada sahabat Rara, Fey yang nggak peduli langit mau runtuh soal komentar orang lain tentang penampilannya yang aneh, terutama dari tiga cewek cantik yang selalu jadi "musuh" Rara dan Fey. Ada pula plot soal sekolah alternatif di dekat tempat pembuangan akhir sampah, yang belakangan terungkap di sanalah Dika jatuh cinta pada pandangan pertama pada Rara. Andai saja plot tentang ibu Dika yang harus melunasi utang almarhum ayah Dika, tidak ada, tentu bumbu cerita dalam film ini akan lebih pas dan tidak terasa kebanyakan.

Saat postingan ini ditulis, jumlah penonton Imperfect sudah lewat di angka 2 juta sekian penonton. Saya tidak heran akan pencapaian gemilang ini. Ernest sudah memancing penasaran sejak Ngenest (2015) dan saya yakin, film-film dia berikutnya akan terus ditunggu.

Akhir kata, Imperfect adalah film yang segar, tidak memaksa, humornya pas dan tak ada yang mubazir. Film ini tidak sempurna, tapi bikin bahagia. Seperti kata Rara saat membalas teman-teman ibunya yang doyan menyindir, "Cantik itu belum tentu bahagia." Benar juga.[]






  







Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "IMPERFECT: KARIER, CINTA & TIMBANGAN Review"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel