Jam Tangan



SORE itu saya pulang ke rumah menjelang magrib. Di perjalanan, azan magrib terdengar. Takut nggak keburu salat di rumah, saya memutuskan berhenti di masjid terdekat.

Sudah menjadi kebiasaan saya, setiap wudu, saya melepas jam tangan dan menyimpannya di kantong celana jins. Alasannya simpel, biar jam tangan tidak basah dan wudu jadi lebih sempurna. Selesai salat saya melanjutkan perjalanan pulang ke rumah. Begitu meletakkan tas di meja kerja di kamar, barulah saya sadar, saya tidak memakai jam tangan. Jam tangan saya itu juga tidak ada di kantong celana jins saya. Saya cari di dalam tas, juga tidak ada. Saya duduk sebentar, mengingat-ingat, lalu menyimpulkan jam tangan itu pasti jatuh dari kantong celana saat wudu atau salat magrib tadi di masjid yang saya singgahi. Karena sudah tidak mungkin datang ke masjid itu lagi malam ini, saya berniat mampir ke sana, esok sore. Syukur-syukur pengurus masjid menemukan jam tangan saya dan menyimpannya.

Esoknya, setelah selesai salat magrib, saya menghampiri marbot masjid dan menyampaikan hajat saya. Si marbot bilang tidak ada jemaah yang melapor menemukan jam tangan tertinggal, kalau ada, pasti dia tahu. Saya pasrah, berarti jam tangan itu diambil seseorang atau bisa jadi saya menjatuhkannya di tempat lain. Saya pulang, tapi tetap penasaran perihal jam tangan saya itu. Di rumah, saya akhirnya cerita ke istri saya. Istri saya bilang, kalau jam itu masih rezeki saya, cepat atau lambat pasti akan kembali.
***
Beberapa hari kemudian saya sudah melupakan jam tangan saya itu. Oh, iya, jam tangan saya itu jam tangan sporty, dual time, analog dan digital. Dulu saya beli Rp175 ribu di toko online, waktu ada diskon gede-gedean. Murah, tapi bagus dan enak dipakai. Saya masih punya jam tangan lain, jadi masalah ini cepat terlupakan.

Tapi suatu sore, waktu saya melewati masjid itu, azan magrib terdengar. Saya kembali mampir untuk salat magrib. Saya terlambat satu rakaat dan bergabung di saf paling belakang, bersama beberapa anak lelaki berumur sekira 6-7 tahun yang sedang bercanda satu sama lain. Saya tidak ambil pusing dengan tingkah mereka dan meneruskan salat. Saat salam ke kanan dan kiri, kagetnya saya ketika melihat salah satu anak lelaki yang sedang bercanda itu memakai jam tangan yang sama persis dengan jam tangan saya yang hilang. Karena pergelangan tangannya kecil, jam tangan itu tampak longgar dia kenakan. Saat jemaah mulai bubar, saya mendekati anak lelaki yang mengenakan jam tangan mirip jam tangan saya itu. Dia duduk sendirian di tangga masjid, sedang memain-mainkan tombol pengatur jarum analog di jam itu dan memencet-mencet tombol-tombol pengaturnya. Dari jarak dekat, saya makin yakin itu jam tangan milik saya. Ada baret di kacanya yang begitu saya kenal.

Apa yang harus saya lakukan? Bilang ke anak kecil itu kalau jam tangan itu punya saya dan minta dia mengembalikannya? Hmm… Setelah saya pikir-pikir lagi, itu tidak mungkin, saya bisa dikira penipu yang mengerjai anak kecil. Tapi kemudian saya dapat ide yang lebih baik.

“Dek, jam tangannya bagus.”

Anak lelaki itu melirik saya sejenak, cuek, lalu kembali asyik memain-mainkan tombol jam tangan saya. Saya tidak tahu status sosial ekonomi anak ini, tapi dari kaos lusuh dan kopiah bulukan yang dia kenakan, saya bisa menerka, dia dari keluarga yang pas-pasan.

“Jamnya dijual nggak, Dek?”
Kali ini dia tampak tertarik. Matanya berbinar.

“Om mau beli emangnya?”
“Iya. Kalau kamu mau jual, sih. 100 ribu gimana?”

Kali ini dia melirik saya. Wajah anak itu kini campuran antara tidak percaya, senang, bingung, ragu, dan cemas. Dia menoleh ke kiri dan kanan, takut ada yang melihat dia sedang bicara denganku.

“Boleh, Om.”
“Beneran nih mau dijual 100 ribu?”
“Bener.”

Saya mengambil selembar uang 100 ribuan dari dalam dompet saya dan memberikannya pada anak itu. Dia membuka jam tangan yang masih dipakainya lalu memberikannya padaku.

“Makasih, Om.”
“Iya, sama-sama.

Anak itu mengenakan sendal jepit yang sama lusuhnya, lalu berlari ke luar pekarangan masjid, hilang di tengah arus lalu lintas malam itu. Saya memeriksa jam tangan saya, benar itu jam tangan saya dan tampaknya dalam keadaan baik seperti sebelum hilang.

Sampai di rumah, istri saya menanyakan bagaimana jam tangan itu bisa kembali. Saya menceritakan soal sosok anak lelaki tadi, yang aku lupa menanyakan namanya.

“Rejeki dia, Mah.”
“Rejeki Papah juga, jam Papah balik lagi.”
“Iya. Mudah-mudahan duitnya bermanfaat buat dia.”

Besok paginya, ketika mau saya kenakan, jam itu ternyata mati, baik jam digital maupun analognya. Siangnya saya bawa ke tukang jam. Kata tukang jam, jam itu rusak karena baterenya kena air.

“Bisa diperbaiki, Bang?” tanya saya.
“Bisa. Tapi ongkosnya lumayah nih.”
“Berapa?”
“150 ribu.”

Saya menelan ludah.[]

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Jam Tangan"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel