Sepasang Sepatu yang Ingin Berpisah



DI POJOK teras sebuah rumah, sepasang sepatu sedang bertengkar. Sepatu Kanan sedang marah pada Sepatu Kiri.

"Udah sering aku bilang, kalau jalan liat-liat. Tuh, solmu kena kotoran kucing!” hardik Sepatu Kanan.
“Ya, habis gimana, kotoran kucingnya ada di sebelah aku. Kamu juga yang salah, kenapa nggak mau geser tadi!”

Sepatu Kiri ikut marah. Sepatu Kanan makin kesal. "Kalau salah ngaku aja, nggak usah nyari-nyari kesalahan orang, eh, sepatu lain!”

Sepatu Kiri merengut, melirik tapaknya yang masih belepotan kotoran kucing. “Ya, udah, aku ngaku salah, trus sekarang gimana?”

Sepatu Kanan cepat menukas, “Aku mau kita berpisah aja!”

Sapatu Kiri kaget. “Mana mungkin. Kita ini sepasang, couple. Nggak mungkin dipisahkan!”

“Bisa-bisa aja kali!”
“Emang kalau udah sendirian, yakin kamu masih mau dipakai majikan kita?”

“Itu nggak penting lagi sekarang! Pokoknya aku mau kita pisah!”

“Kamu kok ngotot sekali, sih mau pisah? Kenapa, sih?”

“Kamu sekarang kotor dan bau! Aku malu jalan bareng kamu!”

Sepatu Kiri menghela napas. “Ya, udah, terserah kamu aja.”

Sepatu Kanan membusungkan dada, sombong. Tiba-tiba pintu terbuka. Majikan muncul, mengambil Sepatu Kiri, membungkuk dan langsung menutup hidungnya dengan mimik jijik. Sepatu Kanan langsung tersenyum sinis.

“Tuh, Majikan kita aja jijik sama kamu. Apalagi aku yang tiap saat ada di samping kamu!”

Sepatu Kiri pasrah, tapi tiba-tiba Majikan membawanya ke dalam rumah. Sepatu Kanan kaget. Belum sempat bertanya, pintu sudah ditutup lagi. Sepatu Kanan panik. “Sepatu Kiri! Sepatu Kiri! Aku tadi tidak sungguh-sungguh berkata begitu!” Tentu saja Sepatu Kiri tidak bisa mendengarnya.

***

Sepatu Kanan sendirian di teras, mondar-mandir dengan gelisah. Ia ingin segera tahu apa yang terjadi dengan Sepatu Kiri. Pintu dibuka dari dalam, Majikan muncul membawa Sepatu Kiri yang sudah selesai dicuci, tampak lebih bersih dan sedikit wangi. Majikan menjemur Sepatu Kiri di dekat pagar, lalu masuk lagi ke dalam. Sepatu Kanan tak sabar bertanya.

“Kamu dari mana saja? Kenapa kamu tampak bersih dan wangi?”

“Aku baru dimandiin.”

“Mandi?”

“Iya. Kotoran kucing yang terinjak olehku dibersihkan, badanku digosok-gosok dengan sikat yang lembut pakai sabun yang aromanya wangi.”

Sepatu Kanan melirik tubuhnya sendiri, yang walau tidak menginjak kotoran kucing, tapi tampak kusam. Sepatu Kiri melirik dengan tatapan menggoda.

“Kamu tetap mau berpisah denganku, Sepatu Kanan?”

Sepatu Kanan cepat-cepat menjawab, “Tidak! Aku tadi hanya bercanda, kok! Aku nggak mau berpisah denganmu.”

“Kamu tadi ngotot mau berpisah.”

Sepatu Kanan menyadari kekeliruannya. “Maafkan aku ya, Sepatu Kiri. Aku salah. Aku egois.”

“Ya, udah, aku maafkan. Udah, ya, aku mau berjemur dulu.” Sepatu Kiri memejamkan mata, menikmati cahaya matahari pagi yang menyiram tubuhnya, tak bicara lagi, membiarkan Sepatu Kanan terus gelisah sambil tersenyum tipis.[]

(c) Copyright 2018, Melvi Yendra

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Sepasang Sepatu yang Ingin Berpisah"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel