Gadis Hujan


PUKUL tiga sore, kafe tempatku bekerja masih sepi. Pengunjung biasanya ramai selepas jam kerja. Pukul enam atau tujuh sore, kafe ini dipenuhi orang-orang yang baru pulang atau pengunjung setia yang memang sengaja datang untuk nongkrong. Mereka minum, makan, rapat, pacaran atau sekadar ngobrol-ngobrol asyik bersama teman-teman. Ada pula yang ngopi sambil menunggu kemacetan reda, browsing memanfaatkan Wi-Fi gratisan atau sekadar mencari colokan listrik untuk mengisi batere gadget yang sudah lemah. Atau,menjadikannya sekadar tempat singgah sejenak sebelum melanjutkan perjalanan entah ke mana.
Sekarang hanya ada tiga meja yang terisi. Satu meja ditempati sepasang remaja yang tampak baru mulai pacaran. Usia mereka mungkin masih 19-20 tahunan. Sejak muncul dari pintu masuk, tangan mereka hampir tak pernah lepas, terus-terusan berpegangan. Si lelaki tiap sebentar merapikan rambut yang tergerai di dahi si perempuan yang punya wajah cantik dan senyum yang manis. Dan si perempuan tiap sebentar meninju bahu si lelaki yang agak gemuk tapi tampan dengan gemas, saat lelaki muda itu melontarkan canda. Kemesraan mereka seolah tak habis-habis, membuat siapa pun yang melihat jadi sedikit iri. Kalau ini bukan Indonesia, aku yakin keduanya sudah saling rangkul dan berciuman. Mereka berpotensi menjadi pasangan yang serasi. Tiap sebentar tersenyum. Tiap sebentar saling berbisik. Aduhai.
Meja kedua ditempati dua orang lelaki yang mungkin berusia pertengahan 30-an, dua orangy ang tampak sedang reuni kecil-kecilan, mungkin dua sahabat yang sudah lama tak jumpa, tiap sebentar keduanya tertawa, sesekali terpingkal-pingkal. Pasti ada lelucon masa lalu yang membuat mereka seperti itu.
Meja ketiga, meja yang berada paling dekat ke pintu masuk, ditempati seorang gadis muda berumur kira-kira 25 tahun. Dia gadis yang cantik. Kulitnya bersih dan terang. Hidungnya pun bangir. Di bibirnya yang pucat, dia memoles lipstik warna beige pekat, yang membuat wajahnya tampak lebih pucat. Gadis itu mengenakan baju dan rok panjang sampai ke mata betis yang dua-duanya didominasi warna hitam. Dia juga membawa sebuah tas jinjing yang juga didominasi warna hitam. Sejak datang, matanya yang gelisah tiap sebentar menoleh ke arah pintu masuk, bahkan kadang-kadang tatapannya tampak lebih jauh, menembus dinding-dinding kaca kafe, sampai ke perempatan yang ramai oleh kendaraaan dan orang yang lalu-lalang. Sepertinya dia sedang menunggu seseorang, mungkin teman atau pacar. Di depan meja gadis itulah sekarang aku sedang berdiri menunggu dia memesan.
“Saya pesan segelas cappuccino,” katanya.
“Oke. Cappuccino satu. Ada lagi?” Aku mencatat di buku kecilku. Gadis itu melirik jam tangannya, memikirkan sesuatu beberapa detik, kemudian menjawab, “Itu saja. Saya sedang menunggu seseorang. Mungkin nanti kalau dia datang, saya akan pesan lagi.”
“Oh, baik. Jadi, satu cappuccino, ya. Saya akan siapkan.”
“Terima kasih.”
“Sama-sama.”
Aku pergi, dan beberapa menit kemudian datang lagi membawa pesanan gadis itu. Saat aku mau kembali ke belakang, gadis berbaju hitam itu bertanya, “Menurut Mbak, apakah di Depok sekarang sedang hujan?”
Aku mulanya heran mendengar pertanyaan itu. Kenapa tiba-tiba gadis itu menanyakan itu? Tapi kemudian aku menyahut, “Saya tidak tahu, Mbak. Tapi belakangan ‘kan memang sering hujan. Di luar juga sedang mendung sepertinya.”
“Jadi menurut Mbak, apakah di Depok sedang hujan?” kejarnya lagi. Aku tersenyum. Pertanyaan yang sama dan sudah kujawab. Tapi dengan ringan aku menjawab kembali, “Sepertinya begitu.”
Gadis itu diam. Jawabanku berlalu bagai angin begitu saja. Merasa percakapan itu telah selesai, aku memutar badan mau beranjak pergi. Tapi gadis itu tiba-tiba berkata lagi, “Ya, semoga dia tidak kehujanan di jalan.”
“Maaf?”
“Orang yang saya tunggu.”
“Oh.”
Aku menunggu sebentar, berjaga-jaga kalau gadis itu masih ingin bicara, tapi ketika dia mengeluarkan novel “Norwegian Wood” karya penulis Jepang Haruki Murakami dari dalam tas hitamnya dan mulai membaca, aku meninggalkannya.
Menit-menit berlalu seperti biasa. Sejoli yang tampak seperti baru jadian tertawa terkikik-kikik, membuat dua pria di meja lain melirik mereka sembari tersenyum. Dua pria itu tak lama kemudian bangkit dari kursi masing-masing, bersalaman, kemudian salah seorang di antaranya melangkah ke pintu. Pria satunya lagi kemudian mengeluarkan laptop dari sebuah tas ransel, kemudian asyik dengan benda itu. Seorang remaja berpakaian seragam SMA masuk ke kafe, memesan segelas besar Ice Blended Cappuccino kemudian pergi lagi. Lalu, ada satu pelanggan lagi datang dan memesan kopi untuk dibawa pergi.
Pukul empat sore kurang beberapa menit, hujan tiba-tiba turun dengan deras. Jendela kaca kafe berembun, dan beberapa pejalan kaki yang menghindari hujan merapatkan diri ke pinggiran kafe, membuat cahaya di dalam jadi semakin gelap.
Gadis yang duduk sendirian melambaikan tangan ke arahku. Aku datang mendekat.
“Saya pesan secangkir kopi. Kopi hitam, tanpa gula,” katanya. Aku menggangguk. “Ada lagi?” tanyaku. Dia menggeleng. Gelas Cappuccino-nya hanya berkurang sedikit, mungkin baru seteguk. Bekas lipstiknya menempel di bibir cangkir yang berwarna putih santan. Lalu, dia kini memesan secangkir kopi pahit. Aku berpikir, jangan-jangan dia tak suka cappuccino buatan kami kemudian memesan yang lain. Tapi tunggu… secangkir kopi pahit? Aku jarang menemukan perempuan yang suka jenis minuman ini.
“Kopi pahitnya bukan buat saya, tapi pacar saya, dia sebentar lagi datang,” katanya seolah tahu isi kepalaku. Mendengar kata-katanya itu, aku terus terang jadi sedikit kikuk, kalau tak mau disebut malu. Tatapan matanya—yang baru kusadari ternyata maniknya teramat hitman—kini membuatku agak gugup. Cepat-cepat aku minta maaf kemudian berlalu. Sambil membuatkan kopi pahit pesanannya, aku berpikir aneh: jangan-jangan gadis itu punya indra keenam yang bisa membaca pikiran orang lain.
Aku mengantar kopi hitam tanpa gula pesanannya dan cepat-cepat kembali ke belakang konter tempat tugasku. Beberapa orang yang terjebak hujan akhirnya memilih masuk ke dalam kafe dan duduk-duduk minum kopi sambil menunggu hujan berhenti. Aku dan rekanku Rio bergantian melayani mereka. Pukul setengah lima, hujan mulai reda, dan kerumunan orang-orang di balik dinding kaca kafe pergi satu-satu. Sepasang sejoli yang baru jadian dan pria yang duduk sendirian akhirnya juga pergi, dan kini di kafe hanya ada satu tamu; gadis bermanik mata hitam itu.
Manajerku keluar dari kantor yang ada di belakang dapur, bicara basa-basi denganku dan Rio soal cuaca dan curhat tentang kemacetan yang kian parah, kemudian pergi lagi ke ruangan kerjanya beberapa menit kemudian. Rio pergi pipis ke toilet dan kini hanya ada aku dan gadis itu, gadis yang sedang menunggu pacarnya.
Di depan kafe tampak sepi. Daniel, anak magang yang bertugas menyambut tamu tampak berdiri dengan tampang bosan. Aku mengisi kekosongan dengan merapikan bungkus gula dan krim sambil nonton televisi yang tergantung di pojok kafe. Aku nonton acara infotainment seperti biasa, tentang artis kawin-cerai, dan hal-hal semacam itu. Lalu, aku mendengar suara itu, suara isak perempuan. Awalnya kupikir suara isak dari acara di televisi, tapi suara itu begitu dekat denganku.
Ternyata gadis berbaju hitam itulah yang terisak. Awalnya isakannya nyaris tak terdengar, tapi makin lama makin jelas. Aku agak bingung. Apa yang harus kulakukan? Diam saja atau bertanya? Aku memilih yang pertama. Mungkin dia cuma butuh beberapa detik untuk melepas perasaan sedihnya. Biarkan saja.
Tapi memasuki menit ketiga, isak itu tak juga berhenti. Apakah gerangan yang membuat dirinya seduka itu? Rio, teman sejawatku datang dari toilet dan langsung ikut terpaku menatap gadis yang sedang terisak itu.
“Kenapa dia, Del?” bisik Rio. Aku menggeleng. Rio juga tampak bingung. “Samperin saja, sana,” kata Rio sambil menyenggol pelan siku tanganku. Aku bergeming, meneruskan menonton televisi. “Kamu aja sana,” kataku pada Rio. Rio memilih pura-pura sibuk merapikan meja.
Isak gadis itu kini berubah jadi tangisan. Tepat pada saat itu, dua orang tamu pria masuk dan langsung menatap heran ke arah gadis itu. Aku dan Rio saling pandang. Ini mulai tak baik. Salah seorang dari kami harus melakukan sesuatu.
Rio memilih melayani tamu yang baru masuk, dan aku terpaksa melangkah mendekati gadis itu. “Mbak… maaf, ada apa? Kenapa Mbak menangis?” Aku menata baik-baik kata-kata yang meluncur dari mulutku. Bagaimanapun, aku adalah seorang pelayan dan gadis itu tamuku. Aku harus sesopan mungkin bertanya, agar tak menyinggung perasaannya. Gadis itu menatapku, lalu cepat-cepat menyapu airmata di pipinya dengan saputangan yang juga berwarna hitam.
“Ah, maaf, Mbak. Maafkan saya. Saya tidak bermaksud…” Dia berusaha sekuat tenaga mengulas senyum. Meskipun kini tangisnya sudah berhenti, tetap saja dia gagal mengubur kesedihan itu dari matanya. Usahanya untuk menghapus dukanya tampak sia-sia saja. Aku mendadak merasa iba. Aku jadi ingat Ranti, adik sulungku, yang suka menangis.
“Mbak mau saya ambilkan air putih? Air putih bisa…” kata-kataku tertahan saat gadis itu tiba-tiba meraih lengan kananku dan melalui gerakan yang lembut menyuruhku duduk di depannya.
“Maukah menemani saya sebentar?” katanya meminta, atau lebih tepatnya memohon. Lewat sudut mata, aku menoleh ke arah Rio yang sedang sibuk menyiapkan pesanan para tamu, minta pendapat. Rio hanya mengangkat bahu, lalu kembali sibuk. Aku tak punya pilihan yang lebih baik, jadi kuputuskan duduk di depan gadis itu lalu memberanikan diri menatap matanya.
“Apa yang bisa saya bantu, Mbak? Maaf saya bukannya tidak sopan, tapi…”
“Maafkan saya. Saya menangis karena baru saja diputuskan oleh pacar saya. Saya sedih sekali. Saya tidak menyangka sama sekali dia memutuskan hubungan kami.” Suaranya parau. Aku tidak tahu harus berkata apa, jadi aku diam saja. Tangisnya kembali pecah. Rio menatap dari kejauhan dengan gestur bertanya, aku menggeleng pelan.
Setelah menghapus air matanya dengan saputangan, gadis itu meneruskan, “Dia terlambat karena jalanan macet akibat hujan lebat. Tempat parkir mobilnya agak jauh dan dia tidak bawa payung. Jadi dia menerobos hujan deras untuk sampai ke sini. Pakaiannya dan rambutnya basah kuyup. Dia tadi langsung minum kopi yang saya pesan, sampai tak bersisa, mungkin dia kedinginan. Dia memang suka sekali kopi hitam, beda sekali dengan saya. Dia bilang dia sering ke sini, makanya mengajak saya bertemu di sini. Saya sendiri baru pertama kali ke sini. Mungkin Mbak sudah akrab dengan wajahnya. Dia tadi bilang Mbak sering melayaninya.”
Aku bingung. Kucerna lagi apa yang dikatakan gadis itu. Dia bilang pacarnya datang dengan kondisi basah kuyup, duduk bersamanya persis di tempat aku duduk sekarang, dan meminum kopi hitam yang tadi dipesan gadis itu. Tapi aku tak melihat lelaki yang diceritakannya itu saat datang atau saat pergi. Aku hanya tahu gadis itu duduk menunggu sejak pukul setengah tiga, memesan Cappuccino kemudian kopi hitam, dan beberapa menit yang lalu terisak-isak sendirian. Tak ada lelaki. Tak ada siapa pun kecuali aku dan Rio.
“Maaf, tapi tak ada yang datang dan duduk di sini bersama Mbak sejak tadi,” kataku. Gadis itu menatapku, kini dengan sorot sedikit heran. “Apa maksud Mbak?”
“Ya, saya tidak ke mana-mana sejak tadi. Saya tidak lihat ada orang duduk dan ngobrol dengan Mbak di meja ini,” kata saya menjelaskan.
“Jadi, maksud Mbak saya mengarang-ngarang cerita itu?”
Kini aku bingung. Entah mana yang harus kuutamakan, menghargai perasaan tamu atau menghormati keyakinanku sendiri. Sumpah disambar gledek, aku tak melihat lelaki yang diceritakannya itu.
“Maaf, Mbak, saya tidak bermaksud begitu. Tapi saya memang tak melihat pacar Mbak itu.”
“Coba tanya teman Mbak yang menjaga pintu masuk, dia pasti ingat,” katanya, kini dengan nada agak sengit. Aku ke depan memanggil Daniel. Kuceritakan apa yang terjadi. Di depanku dan gadis itu, Daniel mengerutkan keningnya. Pemuda 19 tahun itu menggeleng.
“Tidak, Mbak Della, saya tidak lihat orang denganciri-ciri seperti itu masuk ke kafe,” katanya. Mendengar jawaban Daniel, gadis itu tiba-tiba bangkit, buru-buru mengambil selembar seratus ribuan dari dalam dompet dan menaruhnya di atas meja, kemudian beranjak ke pintu dengan lagak kesal. Begitu tubuhnya hilang di koridor, aku mengambil uang itu dan mengemasi gelas kopi di atas meja.
“Aneh banget ya, Mbak,” kata Daniel.
“Banget,” sahutku. “Ya, sudah, terima kasih, Daniel, silakan kembali ke depan lagi.”
Daniel pergi. Aku mengangkat nampan ke dapur. Saat meletakkannya di tempat cuci piring, sesuatu membuatku nyaris terhenyak. Cangkir kopi hitam yang dipesan gadis tadi untuk pacarnya sudah kosong. Tidak itu saja, aku tiba-tiba merasa bagian pantat celanaku agak lembab. Aku pergi memeriksa jok kursi tempat aku duduk bersama gadis tadi, dan jok kursi itu lembab seperti baru ditumpahi air.
Aku kembali teringat cerita gadis itu tentang pacarnya. Apakah dia berkata yang sebenarnya?
Seketika aku merinding.[]
© Melvi Yendra, 2014

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Gadis Hujan"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel