Dijemput Malam




PINTU baja setebal 5 inci itu terbuka. Zainal keluar diantar seorang sipir penjara. Mereka bersalaman kemudian berpelukan.

“Selamat jalan, Zainal. Semoga kita tidak pernah ketemu lagi.”

Zainal tersenyum. Ditatapnya pak Bakri, lelaki tua yang hampir pensiun itu. Selama di penjara, lelaki itulah yang sesekali menjadi ayahnya. “Kalaupun harus ketemu, saya harap bukan di sini lagi, Pak. Banyak tempat dan keadaan yang lebih baik,” ujarnya.

“Semoga saja,” sahut pak Bakri.

Mereka berpisah. Zainal mengawasi lelaki 50 tahun itu menutup pintu penjara. Ia kemudian pergi.

Zainal datang ke tempat itu lima tahun yang lalu, dijebloskan begitu saja tanpa peradilan. Dituduh subversif setelah memimpin demo besar-besaran di depan kediaman Presiden RI pada tahun 1997. Entah angin apa yang membawa, tiba-tiba saja datang surat pembebasan atas dirinya. Alhamdulillah, ternyata Ramadhan membawa berkah untuknya.

Ia menyetop metromini jurusan Rawamangun. Ia berencana pulang ke kampung halamannya, sebuah dusun kecil di Bengkulu Utara, ke rumah orang tuanya. Sudah enam bulan ini surat-surat yang dulu rutin dikirim Fathimah, adiknya, tidak lagi diterimanya. Ia rindu pada keluarganya. Lagi pula, tiga hari lagi Idul Fitri.

@@@

Zainal turun dari motor dan membayar tukang ojek. Sudah malam di Argasari ketika ia sampai. Pondok pesantren kecil yang dipimpin ayahnya terlihat sepi. Kemana para santri? Bukankah seharusnya mereka salat tarawih atau tadarusan di masjid? Zainal bertanya-tanya dalam hati.

Zainal masuk ke pekarangan pesantren. Benar-benar sepi. Bahkan tak satupun lampu ruangan yang dinyalakan. Ruang-ruang kelas, mushala dan kantor tampak suram dan kotor. Rumput di lapangan tempat anak-anak biasa berolahraga juga tampak tak terurus. Rumput liar memenuhi pesantren, seolah-olah sudah lama ditinggal penghuninya.

Ke mana ayah dan adiknya Fathimah? Ke mana Mang Ujang yang selalu rajin merawat dan membersihkan pesantren?

Di bawah cahaya bulan, Zainal mendekati rumahnya yang ada di belakang bangunan kantor. Rumah itupun ternyata sepi. Lampunya pun tak menyala. Ada apa ini? Kemana Ayah dan Fathimah? Zainal mulai was-was.

Ketika ia mengintip ke jendela, didengarnya suara sepeda mendekat. Tak jelas siapa yang datang, tapi orang itu tampak terburu-buru.

“Bang Zainal? Bang Zainal, ya?”

Zainal menajamkan matanya. Sudah lima tahun ia tak mengenal suara itu. Tapi ia takkan lupa begitu saja. Mang Ujang!

“Apa yang terjadi, Mang Ujang?”

Mang Ujang lelaki berumur 40-an yang menjadi pembantu ayahnya sejak Zainal masih kecil. Ia yang mengurus pesantren dan menemani ayahnya kalau ada pengajian ke kampung-kampung lain. Ia sudah seperti kakak sendiri bagi Zainal dan Fathimah.

Mang Ujang memeluk Zainal, lalu menangis tersedu-sedu. Di antara isak tangisnya ia bercerita :
Tujuh bulan yang lalu, sepasukan polisi tiba-tiba datang menyerbu pesantren. Mereka menangkap ayah Zainal dengan tuduhan terlibat jaringan teroris internasional. Ia juga dituding memprovokasi petani untuk berunjuk rasa ke kantor bupati beberapa minggu sebelumnya. Unjuk rasa itu berakhir dengan dirusaknya kantor bupati dan diculiknya wakil bupati oleh warga. Padahal unjuk rasa itu terjadi hampir di seluruh kecamatan. Sampai saat terakhir, tidak ada bukti apapun yang menunjukkan keterlibatan ayah Zainal dalam kasus itu.

Tentu saja para santri dan masyarakat sekitar pondok protes terhadap kesemena-menaan itu. K.H Muttaqien memang pernah lama di Afghanistan, ikut bertempur bersama mujahidin melawan tentara komunis Rusia. Tapi ketika pulang ke Indonesia dan mendirikan pesantren di tanah kelahirannya, tak satupun ajarannya yang berbau kekerasan. Ia sama seperti kiai-kiai lain mana pun di Indonesia.
Ketika K.H. Muttaqien dibawa paksa, mereka melawan. Jatuh korban luka-luka karena polisi menggunakan senjata dan pentungan. Untung saja tidak ada warga yang meninggal dunia.

Sejak saat itu suasana kampung jadi mencekam. Tapi tiga hari setelah ayah Zainal ditangkap, seorang anggota polisi ditemukan sudah jadi mayat di hutan tak jauh dari kampung mereka. Polisi langsung saja menuduh itu perbuatan para santri. Lalu ditangkapi pulalah para santri senior yang dituduh telah melakukan pembunuhan itu. Masyarakat jadi marah, dan balas membakar kantor polisi. Polisi pun marah juga, dan menuduh Fathimah, adik Zainal, sebagai pemimpin aksi itu. Fathimah ditangkap dan dikurung bersama-sama dengan ayahnya.

“Lalu di mana ayah dan adikku sekarang?” tanya Zainal.

Mang Ujang mengusap matanya yang basah. “Mereka di bawa ke polsek, Nal. Sudah dua kali abang menjenguk mereka ke sana. Tapi sampai sekarang kasusnya belum di proses juga.”

Zainal tertegun. Ia sedang berpikir keras. Panas hatinya mendengar ayah dan adik diperlakukan semena-mena seperti itu. Apa gerangan yang telah dilakukan ayahnya hingga sampai begitu jauh polisi menjadikannya tertuduh?

“Menurut Abang, siapa sebenarnya yang melakukan penculikan dan pembunuhan polisi itu. Maksud saya, siapa sebenarnya yang berada di balik kasus ini?”

Mang Ujang menggeleng. Ia tahu benar siapa Zainal. Anak muda itu sedang berdarah panas. Salah-salah bicara, dia bisa mengamuk seperti harimau.

“Abang tidak tahu, Nal. Tapi abang yakin itu bukan kerjaan santri kita. Tidak mungkin ada santri atau masyarakat sini yang mampu melakukannya. Pekerjaan kotor itu dilakukan orang-orang terlatih.”

“Lalu kenapa pondok ditinggal begini. Apa tidak ada lagi anak-anak yang mau belajar di sini?”

“Bukan begitu Nal,” sahut Mang Ujang. “Penduduk bukannya tidak mau lagi anaknya belajar di sini, tapi guru-guru dan murid-murid jadi takut datang ke pondok. Mereka takut diserang lagi oleh polisi.”
Zainal terdiam cukup lama. Hatinya perih tak terkira. Ia pulang untuk melepas rindu pada adik dan ayahnya. Setelah ibunya meninggal, ia tidak punya siapapun selain ayahnya dan Fathimah. Ia ingin tenang dan memulai hari yang baru di kampung halamannya. Tapi yang ia jumpai malah musibah yang bakal menguras lagi otaknya.

Negeri macam apa ini sebenarnya? Di mana letak hukum yang katanya harus dijunjung tinggi-tinggi? Ia hampir tertawa sendiri. Tindakan polisi menangkapi kiai-kiai di seluruh tanah air ibarat kata pepatah, tak ada rotan, akar pun jadi. Semua yang berbau pondok pesantren dicurigai. Semuanya dikaitkan dengan bom dan teroris. Jangankan untuk membuat bom, untuk makan sehari-hari saja mereka kesusahan.

“Mang Ujang besok bisa antar saya ke polsek? Saya ingin bertemu ayah dan Fathimah.”

Mang Ujang mengangguk. Tapi dalam hati ia menangis. Ia belum menceritakan semuanya.
***
Mereka berpelukan di bawah pengawasan seorang petugas polisi.

“Bagaimana keadaan Ayah?”

Tanpa dijawab pun Zainal tahu kondisi ayahnya kurang sehat. Pipi berisi yang dilihatnya terakhir kali setahun lalu, sekarang sudah cekung. Mereke berjumpa terakhir kali ketika ayahnya dan Fathimah datang ke LP Cipnang, menjenguknya. Saat itu ayahnya masih segar bugar.

“Ayah baik-baik saja, Zainal. Kamu tidak usah khawatir. Fitnah ini akan segera berakhir. Allah akan menolong hamba-Nya yang bersabar,” sahut K.H Muttaqien.

Zainal merasa ayahnya diperlakukan buruk selama ditahan. Ia melihat beberapa perubahan pada fisik ayahnya.

“Apa mereka memperlakukan Ayah dengan baik? Apa mereka menyediakan pengacara untuk membantu Ayah?” Pertanyaan itu beruntun dan minta segera dijawab.

Lelaki tua di hadapan Zainal cuma diam. Ia menimbang-nimbang untuk menceritakan apa yang ia alami selama dalam tahanan. Haruskah diceritakannya perlakuan biadab para aparat hukum itu ketika menginterogasinya? Haruskah diceritakannya bahwa Fathimah adiknya telah tewas diperkosa yang kemudian divonis dokter telah bunuh diri? Haruskah diceritakannya kalau diriya pernah diseret seperti anjing ketika ia menolak mengakui apa yang tidak dilakukannya?

Anak muda di depannya bukan anak muda biasa. Ia dididik dengan baik tentang cinta dan keadilan. Udara panas Jakarta telah melahirkannya menjadi manusia lain yang tak dikenalinya. Ia khawatir sesuatu yang jahat akan menimpa anaknya itu.

“Di mana mereka menahan Fathimah, Ayah?”

Sang Ayah merasa tiba-tiba petir menggelegar di atas mereka. Ia tidak tahu harus mengatakan apa.
***
Ia tak pernah merencanakannya. Ia bahkan tak pernah berniat sedikitpun. Ia tak pernah meminta.

Bukan kehendaknya kalau penduduk kampung pagi itu datang berbondong-bondong ke pondok. Mereka membawa apa saja yang bisa dijadikan senjata.

Ia baru kembali dari melihat kuburan adiknya, yang dimakamkan oleh beberapa penduduk secara diam-diam di belakang pondok. Kaget bukan main ia ketika melihat ratusan penduduk lanang sudah berkumpul di tanah lapang pondok. Mereka memintanya untuk mengusut semua kebiadaban itu. Ia tidak menyangka berita kepulangannya sudah didengar oleh penduduk. Mereka berteriak-teriak marah.

“Kami sudah berbulan-bulan menunggu kedatangan Bang Zainal. Sudah saatnya kita menuntut ketidakadilan ini!”

“Tidak ada yang bisa memimpin di sini selain pak Kiai. Sekarang kami mempercayakan nasib kami pada Bang Zainal!”

“Kita perlu melakukan perlawanan, Bang. Sejak tujuh bulan yang lalu, sudah empat santri yang diculik, dan tak satupun yang kembali!”

Teriakan-teriakan itu keras dan penuh amarah.

Zainal menahan napas. Ia tidak ingin ada gerakan apa-apa dari dusun kecilnya. Ia tidak ingin lagi jatuh korban.

“Jangan. Aku tidak ingin ada yang terluka, diculik atau dibunuh lagi. Kalian harus tahu, bahwa yang kita hadapi adalah orang-orang picik dan jahat. Tindakan massal apapun yang kita lakukan, akan mereka jadikan alasan untuk menghabisi kita,” sesak napas Zainal menghadapi orang-orang yang dibakar amarah itu.

“Aku akan coba jalur lain. Aku akan hubungi teman-temanku yang ada di LBH di Jakarta. Percayakan saja padaku, semuanya akan kita balas dengan setimpal.”

“Tapi, Bang...”

“Sabar...sabar Bapak-bapak! Ingat, aku jauh lebih berduka daripada kalian. Adikku diperkosa dan dibunuh. Ayahku ditangkap tanpa jelas apa kesalahannya. Mereka diperlakukan secara biadab oleh para aparat itu. Jadi percayakan semuanya padaku.”

Orang-orang itu bergumam kecewa.

“Besok kita lebaran, saudara-saudara. Lebih baik kita tingkatkan ibadah kita di hari terakhir ramadhan suci ini. Perbanyak doa dan mintalah bantuan pada Allah. Aku yakin, Allah akan menolong kita semua.”

Setengah jam kemudian, lapangan pondok sudah kosong. Penduduk sudah kembali pada ke rumahnya masing-masing.
***
Tidak terdengar suara takbir. Orang-orang dusun Argasari jadi takut ke luar rumah.

“Sebaiknya kau cepat-cepat pergi dari desa ini. Kalau bisa malam ini juga.”

“Kenapa?” Zainal menatap Mang Ujang. Wajah lelaki itu sudah lebih dulu cemas dan terlihat pucat.

“Maghrib tadi, di warung Mbak Acih, ada dua orang asing ikut duduk berbuka puasa. Kelihatannya mereka alat negara,” papar Mang Ujang.

“Ya, biarkan saja. Kita toh tidak melakukan apa-apa. Warga dusun tidak jadi demo ke kantor polisi,” sahut Zainal sembari menuang minuman ke gelas.

“Tapi saya khawatir, Nal. Firasat saya benar-benar tidak enak.”

“Maksud Mang Ujang?”

“Mereka itu intel. Saya yakin sekali. Mereka terang-terangan mengorek informasi tentang kamu dari penduduk.”

“Ya. Biarin saja. Saya tidak takut,” Zainal bangkit dan beranjak ke tempat wudhu. “Saya mau shalat witir dulu. Setelah itu tidur. Besok pagi-pagi, sebelum shalat Id, saya mau menelpon ke Jakarta.”

Mang Ujang tidak berkutik. Tapi perasaannya tetap tidak enak. Ia merasa sesuatu yang buruk akan terjadi malam ini.
***
Mang Ujang tidak bisa tidur. Ia duduk, bangun, lalu duduk lagi dengan penuh kegelisahan. Ia sudah selesai salat lail. Ini salat lail paling lama yang pernah dilakukannya. Ia sudah berdoa agar mereka semua diselamatkan. Persis seperti yang dilakukannya pada malam sebelum K.H. Muttaqien ditangkap.

Tiba-tiba ia ingat sesuatu.

Setengah jam kemudian, ia mendekati kamar tidur Zainal. Dihampirinya pemuda yang tidur dengan tenang itu.

Ditatapnya anak muda itu.

“Maafkan, abang, Nal. Mungkin cuma ini yang bisa Abang lakukan untuk membantumu.” Lalu sambil berurai air mata dihajarnya pemuda itu sampai pingsan dengan pukulannya yang kuat dan keras. Setelah Zainal pingsan diraihnya kepala pemuda itu dan diciumi keningnya.
***
Mereka mengendap-ngendap di luar rumah K.H. Muttaqien. Perintah sudah dikeluarkan dan mereka harus selesai paling lambat sebelum subuh.

Tidak perlu kekerasan untuk membuka kunci pintu rumah itu. Target mereka sedang tidur nyenyak di tempat tidurnya.

Dengan sepuluh tembakan dari pistol berperedam selesailah tugas mereka melenyapkan Zainal, putra K.H. Muttaqien.
***
Di atas kapal ferry yang menuju pelabuhan Merak, Zainal membuka surat yang sudah puluhan kali dibacanya. Hari ini tanggal dua syawal. Seharusnya ia tidak di sini. Seharusnya ia di Argasari, menguburkan jenazah orang yang telah menyelamatkan nyawanya.

Assalamu’alaikum Wr.Wb.

Maafkan atas kelancangan Abang merencanakan hal ini tanpa memberitahumu, karena Abang tahu kau pasti tidak akan setuju.

Semua Abang lakukan agar kau bisa melanjutkan perjuanganmu menuntut keadilan atas kematian adikmu, untuk ayahandamu, untuk para santri yang hilang tak tentu rimbanya dan yang terakhir: untukku. Cuma kau yang bisa, Zainal. Cuma kau yang bisa menegakkan keadilan di kampung kita.
Pergilah secepatnya dari kampung ini. Jangan abaikan Abang lagi. Abang yakin, suatu saat nanti kau akan kembali membawa keadilan untuk kita semua.

Selamat berjihad, Saudaraku!

Wassalam,

Mang Ujang.

Berurai air mata dilipatnya kembali surat itu.

Ia masih ingat saat terjaga pagi-pagi hari raya itu, ia menemukan dirinya ada di sebuah gubuk di tepi sawah. Ia merasa khawatir kemudian bergegas ke pondok dan menemukan mayat Mang Ujang yang berlumuran darah di atas tempat tidurnya. Tubuh itu hancur oleh peluru.[]

Utan Kayu, 11 Nopember 2002

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Dijemput Malam"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel