The Mirror Mission



SEORANG lelaki tinggi kekar berdiri menghadap keluar di pintu sebuah jendela. Tangannya menggenggam sebuah teropong. Berkali-kali ia meneropong ke bawah, ke arah jalanan yang sedang sibuk dan sesekali melihat jam tangannya.

Tiba-tiba terdengar suara panggilan dari sebuah radio HT. Lelaki itu meninggalkan jendela dan meraih pesawat itu.

“Gawat Jeff! Di luar ada pengintai!” lapor suara di HT.

“Ya. Aku juga melihatnya. Kau tetap pada pos yang telah ditentukan. Jangan berpindah posisi. Teruskan perintah ini kepada yang lain. Aku akan turun ke bawah dan terus awasi mereka. Jika tidak ada perubahan, aku akan kembali dalam sepuluh menit.”

“Baiklah, Jeff. Ada pesan lain?”

“Bagaimana tamu kita?”

“Alhamdulillah. Dia sedang tidur di ruangannya. Perjalanan panjang itu sungguh membuatnya kelelahan. Sepertinya beliau terkena jet lag juga.”

“Oke, aku turun dulu. Assalamu’alaikum!”

Lelaki kekar itu meletakkan HT-nya di atas meja. Ia membuka sebuah laci meja dan mengeluarkan sebuah pistol MT-12F buatan Swiss.

“Bismillah. La haulawala quwwata illa billah…” ucapnya dengan tenang sambil melangkah menuju lift.

Setengah menit kemudian ia sudah berada di luar gedung bertingkat sepuluh itu. Ia sengaja keluar lewat pintu belakang agar tidak dicurigai para pengintai. Jeff menduga yang mengawasi mereka di luar adalah agen-agen khusus dari Pentagon. Tapi ia tidak bisa percaya, bahwa berita kedatangan seorang aktivis harokah dari Timur Tengah bisa begitu cepat tercium oleh CIA. Padahal sejak kedatangan Syekh Abdullah Al-Yamani ke Amerika, belum sekalipun Syekh muncul di depan umum. Jadi darimana orang-orang Langley itu tahu?

Setelah yakin tidak ada yang mengawasinya, Jeff memanjat tembok setinggi 2,5 meter yang membatasi gedung itu dengan sebuah supermarket. Dengan lincah tubuh atletis itu telah berpindah tempat. Dia membersihkan setelan jasnya dan mulai mengawasi. Jeff berjalan menuju sebuah kotak yang berdiri setinggi pinggang di samping sebuah telepon umum. Ia memasukkan uang receh ke sebuah lubang dan mengambil koran yang ada di dalam kotak. Sambil membuka-buka lembaran koran itu, Jeff menyempatkan matanya mengawasi sebuah van hitam yang diparkir di depan jalan masuk ke gedung museum, gedung yang berseberangan dengan gedung tempat Syekh beristirahat. Di belakang kemudi van hitam itu duduk seorang laki-laki hampir botak dengan rayban menutup matanya. Ia sedang bicara dengan temannya, yang lebih muda beberapa tahun, seorang pria berkumis. Kedua orang itu selalu melihat ke arah lantai sepuluh gedung di samping mereka. Sesekali mereka menggunakan teropong.

Jeff melipat korannya. Segera ia masuk ke bilik telepon umum, mencari-cari koin di saku celananya lalu memutar sebuah nomor.

“Larry! Beritahu tamu kita bahwa kita akan mulai bergerak setengah jam lagi, insya Allah. Aku punya rencana bagus untuk ‘tamu-tamu tak diundang ini”. Siapkan segera mobil. Aku akan memberitahu kapan kalian harus keluar. Aku nanti akan menunggu di depan Hotel La Drayothe. Itu saja. Hati-hati!”

Jeff menutup telepon dan keluar sambil memakai kaca mata hitamnya. Ia dengan tenang melangkah menyeberangi jalan dan menemui pengemudi van hitam itu.

“Maaf sekali Tuan-tuan. Lima menit lagi akan ada beberapa buah truk yang akan masuk ke pelataran gedung museum ini. Saya kira mereka tidak akan bisa masuk kalau anda parkir di sini.”

Laki-laki yang nyaris botak mengernyitkan keningnya. Ia tampak tidak senang. Temannya sibuk mengamati Jeff.

“Tunggu dulu, anda siapa?” tanya yang botak dengan sinis. Ia seolah-olah menggertak Jeff.
Jeff tersenyum.

“Oh, begitu. Jadi anda ingin tahu siapa saya? Saya penanggung jawab sekaligus pengelola gedung ini. Cukup jelas?”

Dua orang pengintai itu tidak gentar sedikitpun. “Oke, Gentlement. Saya tidak punya banyak waktu untuk mengurusi anda. Dan saya tidak ingin polisi merepotkan anda berdua.”

Jeff beranjak dan langsung menghentikan sebuah taksi. Ia masuk dan memberitahu pengemudinya agar bergerak lurus. Jeff melihat ke belakang dan tersenyum ketika melihat van hitam itu akhirnya pergi. Ketika van hitam itu menghilang di perempatan, Jeff menyuruh taksi berhenti tepat di depan Hotel La Drayothe. Diberinya sopir selembar uang, plus ucapan ‘keep change’ dan langsung berjalan cepat menuju telepon umum, di samping hotel.

“Larry, sekarang!”

Tak lama kemudian sebuah jeep biru metalik berhenti di depan hotel. Jeff langsung masuk begitu pintu depannya terbuka dan jeep itu kembali melaju di kepadatan lalu lintas.

Di dalam jeep ada Larry, Tawfik dan Syekh Abdullah Al-Yamani. “Alhamdulillah, lega rasanya,” ucap Jeff, ketika tugas mereka hampir selesai. Sekarang tinggal menuju sasaran terakhir.

“Kaifa, Syekh?” Jeff mengulurkan tangannya ke belakang, kepada seorang lelaki Arab berumur 60-an. Syekh Abdullah tersenyum dan menyambut tangan Jeff dengan hangat.

“Alhamdulillah!” jawabnya tenang.

Jeep itu terus melaju membelah keramaian kota New York.

“Salut untuk kelihaianmu mengusir mereka. Apa saja yang kau katakan pada mereka?” tanya Tawfik, mahasiswa asal Turki yang bergabung dalam misi itu. Jeff hanya tersenyum. Dikembangkannya koran yang tadi dibacanya. Ia menunjuk sebuah berita.

“Wah, hebat sekali!” komentar Tawfik.

“Museum itu sedikit banyak telah menolong kita.” Ucap Larry.

“Ah, tidak! La tusyrik akhi! Ini hanya kebetulan saja akan ada truk yang mau masuk mengantarkan barang-barang ke museum itu,” sahut Jeff sambil melihat jam tangannya. “Enam jam lagi kita akan segera sampai, Insya Allah,” lanjutnya. Lalu hening. Masing-masing sibuk merenung.

“Ya, Allah!” teriak Larry tiba-tiba, membuat yang lain tersentak kaget. Jeff menoleh ke belakang. Samar-samar terlihat van hitam itu.

“Mereka mengejar kita!” katanya.

“Kita harus cepat!” Larry berkata sambil mengoper gigi.

“Tancap gas, Larry. Jangan sampai mereka berada di samping kita. Mereka tidak akan membiarkan kita hidup,” ucapnya tertahan.

Syekh Abdullah tampak tetap tenang. Ia sibuk berdzikir. Sementara Tawfik mulai sibuk dengan Remington Steel-nya.

“Allahu Akbar, lampu merah!” Larry memberitahu. Ia menoleh pada Jeff meminta pertimbangan.

“Terus saja. Tapi hati-hati!” jawab Jeff. Jeep metalik itu terus meluncur. Arus lalu lintas yang sedang vakum membuat jeep itu selamat sampai di seberang, walau dengan teriakan marah orang-orang. Untung saja tidak ada patroli polisi.

Jeff menoleh ke belakang. Dilihatnya van hitam pengejar mereka terjepit diantara mobil-mobil lain, menunggu giliran lampu hijau.

“Alhamdulillah!” ucap Jeff.

“Untuk sementara kita aman. Van hitam itu baru bisa bergerak setelah sepuluh menit menunggu,” lanjutnya. Tapi kendati begitu, Jeff tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya. Ia meraih kaset-kaset nasyid yang ada dalam sebuah kotak dan mengambilnya satu. Ia menyetelnya. Beberapa jam berlalu tanpa ada yang berbicara. Hanya lantunan suara nasyid yang terdengar. Jeff sudah dua kali mengganti nasyid. Semuanya terasa berjalan begitu cepat.

“Kau kelihatannya mengantuk sekali, Jeff. Tidurlah. Perjalanan ini akan terasa lama. Kita mungkin baru sampai sebelum fajar nanti.” Larry melirik Jeff yang tampak ngantuk berat. Tapi Jeff malah memperbaiki posisi duduknya.

“Tidak akh. Seharusnya kau yang istirahat. Bagaimana kalau aku gantikan?” tawar Jeff.

Larry tersenyum. “Sudah tanggung jawabku, Jeff!”

Larry secara tak sengaja menoleh ke spion. Tiba-tiba ia kelihatan cemas.

“Astagfirullah! Mereka ada di belakang!” teriaknya. Syekh Abdullah dan Tawfik yang tengah tidur langsung terbangun dan ikut melihat ke belakang. Van hitam itu tampak semakin merapat.

“Mereka tampaknya akan bisa mencegat kita. Larry, usahakan agar mereka berada di sebelah kanan. Itu akan lebih mudah bagi kita untuk menghambat mereka.”

Tapi tiba-tiba terdengar suara tembakan beruntun dari arah belakang. “Syekh Abdullah, anda harus menunduk!” perintah Jeff. Syekh Abdullah menurut. Suara tembakan kembali terdengar.

“Sudah saatnya membalas!” ucap Jeff. Ia segera membuka sebuah kap khusus di atas jeep. Ia memutar tubuh dan berdiri. Separoh badannya sudah di luar. Jeff membidik dan melepas tembakan. Berulangkali. Setelah itu ia turun lagi.

“Alhamdulillah. Satu diantara mereka tertembak,” ucapnya lega.

“Berarti tinggal satu,” ucap Tawfik, dengan harapan dugaannya tidak keliru.

“Tidak, mereka masih banyak! Dalam van itu ada delapan orang. Semuanya menggunakan topeng,” jawab Jeff.

Suara tembakan terdengar lagi. Jeff bermaksud kembali membalas, tapi batal sebab tiba-tiba van hitam itu sudah berada di samping mereka. Larry menekan pedal gas lebih dalam. Tapi van itu terus saja merapat. Sesekali jeep mereka tergoncang karena dihantam dari samping. Larry membalas.

Namun tiba-tiba pintu geser di samping van itu terbuka dan di baliknya muncul tiga wajah bertopeng dengan senapan siap tembak. Jeff dan Tawfik belum sempat berbuat apa-apa. Larry punya akal. Ia membuat gerakan zig-zag, dengan tujuan agar tembakan mereka meleset. Lalu suara tembakan beruntun terdengar. Balas membalas. Para mujahid bertakbir. Jeep mulai tampak tak terkendali.

Sekilas Jeff sempat melihat Tawfik melepaskan tembakan ke arah para pengejar itu. Tapi kemudian sebuah benda panas membuat pandangannya berkunang-kunang. Semuanya tampak gelap dan hitam.
SAMAR-SAMAR Jeff mendengar suara orang berbicara. Lemah sekali. Hampir seperti bisikan.

Kemudian suara itu makin jelas terdengar. Dan ketika ia mencoba membuka matanya terdengar ucapan ‘alhamdulillah’ di mana-mana.

“Alhamdulillah, akh Jeff, anda sudah siuman.” Sebuah suara terdengar. Suara itu sangat dikenal Jeff. Suara Ustadz Rasyid! Jeff mencoba memaksa matanya untuk melihat lebih jelas. Ia mencari pemilik suara itu.

Seorang lelaki separuh umur, berkacamata dan berjenggot, tersenyum kepadanya. Lelaki yang begitu dikaguminya.

“Ustadz!” Jeff mencoba untuk bangun. Ia ingin memeluk orang tua itu. Tapi dengan cepat dicegah oleh beberapa orang ikhwan yang berdiri di samping tempat tidur.

“Berbaring saja, Jeff. Nanti kita bisa bicara banyak.” Ustadz Rasyid mendekat dan menyalami pemuda itu.

“Hukumlah saya, Ustadz. Saya akhirnya sadar bahwa saya tidak mampu menyelesaikan misi ini dengan baik. Saya gagal,” Jeff terisak. Ia sudah bisa membayangkan kalau Syekh Abdullah terbunuh atau malah ditawan oleh orang-orang CIA. Ustadz Rasyid masih tersenyum.

“Tidak Jeff. Kalian telah berusaha. Semoga Allah membalasinya dengan berlipat ganda.” Kata-kata ‘amin’ menggema dimana-mana.

Namun Jeff tiba-tiba tersentak. Ia teringat sesuatu. Di pandanginya wajah setiap orang yang ada di ruangan pasien itu satu persatu. Ia tidak menemukan Larry dan Tawfik.

“Larry dan Tawfik dimana, Ustadz?” tanyanya cemas. Matanya masih berusaha mencari dua saudara seimannya itu.

“Mereka berdua dan Assad telah syahid, akhi…” Ustadz Rasyid menitikkan air mata.

“Semoga Allah menempatkan kalian di tempat yang layak, saudaraku,” batin Jeff. Pemuda itu menghela nafas. Ada sesuatu yang hilang dalam dirinya. Larry…Tawfik…rintihnya pilu. Dan…Assad?

“Siapa Assad, Ustadz?” tanya Jeff.

“Nanti saja kita bicarakan, Jeff. Sekarang istirahatlah dulu. Banyak yang akan kita bicarakan.” Ustadz Rasyid memalingkan wajahnya kepada para ikhwah. Ia menyampaikan sesuatu yang tak terdengar oleh Jeff.

“Kami permisi dulu, Jeff. Kalau sudah memungkinkan, kita akan bicara panjang lebar. Assalamu'a’aikum!"

Ustadz Rasyid menyalami Jeff dengan hangat, diikuti yang lain. Jeff menatap kepergian mereka dengan ikhlas.

KETIKA Jeff benar-benar telah sembuh, ia dipertemukan oleh Ustadz Rasyid dengan seorang Arab bernama Syekh Abdullah.

“Anda mirip sekali dengan asy-syahid Abdullah Al-Yamani,”ucap Jeff ketika mereka bersalaman. Syekh Abdullah hanya tersenyum.

“Memang harus begitu!” timpal Ustadz Rasyid.

“Maksud Ustadz?” tanya Jeff tidak mengerti. Ustadz Rasyid berbicara sebentar dengan Syekh Abdullah dalam bahasa Arab. Kemudian ia berkata, ”Begini Jeff. Misi kita yang baru saja berakhir terbagi dalam dua bagian yang hampir sama. Satu bagian disebut sebagai Misi Sebenarnya sedangkan yang lain disebut misi bayangan. Misi bayangan direkayasa sedemikian rupa agar orang-orang CIA atau FBI atau Pentagon melupakan atau sama sekali tidak menyadari adanya Misi Sebenarnya.” Ustadz Rasyid berhenti sampai di situ.

“Jadi…?” Jeff mulai paham. Tapi ia tidak menyelesaikan kata-katanya. Ia kembali mulai mengingat apa saja yang telah mereka lakukan selama misi berlansung.

“Ya. Dalam Misi Sebenarnya ada Syekh Abdullah dan di bagian Misi Bayangan begitu pula. Tapi mereka berdua serupa tapi tak sama. Dan yang ada bersama kita sekarang adalah Syekh Abdullah yang sebenarnya.”

Jeff memandang ke arah orang Arab yang dimaksud Ustadz Rasyid.

“Jadi misi ini dianggap sukses dengan gemilang, begitu maksud Ustadz?”

Ustadz Rasyid mengangguk. Beliau menepuk-nepuk bahu Jeff.

“Ya. Tugas kita menyelamatkan Syekh Abdullah dari kejaran CIA telah berhasil. Mereka bahkan mengekspos di media massa bahwa Syekh Abdullah telah tewas dalam sebuah kecelakaan mobil. Jadi sekarang kita bisa lebih leluasa.”

“Walau dengan mengorbankan tiga orang pilihan sekaligus?”

Ustadz Rasyid tetap tenang. Ia bisa merasakan goncangan dalam diri mad’u-nya itu.

“Tewasnya tiga orang saudara kita itu tak pernah ada dalam rencana, Jeff. Rencana Allahlah yang telah berlaku. Tak seorangpun diantara kita yang menginginkan hal itu terjadi. Tapi, Insya Allah mereka tidak mati sia-sia, Jeff. Mereka syahid. Dan itulah cita-cita tertinggi mereka, termasuk kita.”

“Tapi kenapa Ustadz tidak pernah membicarakan rencana itu dengan kami? Kenapa kami tidak diberitahu sebelum misi dimulai?” Jeff menatap Ustadz Rasyid. Lama sekali. Tak ada yang salah dalam ucapan orang tua itu. “Satu lagi pertanyaan saya, Ustadz,” pintanya.

“Ya, sampaikanlah.”

“Siapakah Asy-Syahid yang menyamar menjadi Syekh Abdullah dalam Misi Bayangan?” Dia berhenti sebentar, kemudian melanjutkan, “Ustadz pernah menyebut namanya. Assad…siapakah dirinya Ustadz?”

Kini, entah kenapa justru Ustadz Rasyid yang kelihatan sedih. Mata teduh itu menerawang jauh. Tapi itu cuma sebentar. Ia kembali tersenyum dengan cepat.

“Dialah Assadullah Al-Hawary. Adik kandungku. Dialah yang menemani Syekh Abdullah sampai di negeri kita ini. Dan dia disiapkan untuk menyamar menjadi Syekh Abdullah yang palsu.”

Jeff terus menatap orang tua itu. Assad adalah adik kandung beliau? Dan beliau ikhlas kehilangan adiknya dalam misi ini? Tiba-tiba Jeff merasa kecil sekali di hadapan lelaki tua itu. Belum seberapa kiranya pengorbanan yang diberikannya jika dibandingkan dengan pengorbanan Ustadz Rasyid. Jeff tiba-tiba memeluk Ustadz Rasyid. Tak ada kata-kata yang terucap darimulut Jeff. Kecuali tangisannya yang panjang. Tangisan kesadaran. Kesadaran bahwa untuk menegakkan Kalimatullah dibutuhkan keikhlasan untuk berkorban. Jeff telah menemukannya. Ya. Jeff telah menemukan arti da’wah dan keikhlasan yang sebenarnya dalam misi ini.[]
Air Tawar, 23 Ramadhan 1414 H 

(Dimuat di Majalah Inthilaq No. 6/Th. II 29 April 1994)

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "The Mirror Mission"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel