Bila Saatnya Tiba



MALAM sedang merambat ketika sebuah jeep militer berhenti agak jauh dari rumah seorang Palestina yang agak terpencil dari rumah-rumah yang lainnya. Di dalam jeep ada empat orang tentara Israel. Seperti sudah terencana, mereka memakai topeng yang sedikit meragukan. Sepintas lalu mereka kelihatan seperti ‘Pemuda Palestina Bertopeng’.

“Kau sudah yakin dia berada di sini Josh?” bisik salah seorang prajurit kepada temannya yang lain. Laki-laki yang ditanya mengangguk saja.

“OK! Dan kau Yoseph, apa sudah kau atur jadwal bom waktu di mobil ini?”

“Sudah Letnan. Sesuai rencana jika kita gagal meringkusnya dan cecunguk itu bisa membawa kabur jeep ini maka dia akan mati meledak bersama mobil ini. Tapi jika kita berhasil menyelesaikan tugas tepat pada waktunya, bom itu akan dengan mudah kembali saya jinakkan,” yang dipanggil Yoseph menerangkan.

“Bagus! Dan kau Edward, bersiaplah untuk menjadi seorang anggota Hamas malam ini. Sandiwaramu menentukan keberhasilan misi ini.”

“Siap, Letnan!” jawab Edward.

“Dan aku akan berjaga diluar. Ayo!” Letnan Kolonel itu langsung menghambur keluar dari jeep dengan sebuah pistol di tangan. Tiga anak buahnya masing-masing bersenjatakan AK-47.

Tanpa menimbulkan suara, keempat serdadu Yahudi itu sampai di depan pintu rumah yang dituju. Edward mengetuk pintu rumah itu pelan-pelan.

Aminah tersentak bangun begitu mendengar suara itu. Tangannya langsung menggenggam sebuah revolver. Senjata itu pemberian Hamas agar ia bisa melindungi Ahmad, abangnya. Perlahan-lahan diseretnya kaki menuju pintu.

“Siapa di luar?” tanyanya sedikit gemetar. Dadanya bergemuruh. Ya, Allah, lindungilah kami, ucapnya pelan.

“Kami Hamas! Kami punya berita penting untuk saudara Ahmad,” terdengar jawaban dari luar.

Aminah curiga.

“Sandi apa yang kalian pakai?” tanyanya menyelidik. Terdengar bisik-bisik di luar. Prajurit-prajurit Israel itu kelabakan. Mereka kecolongan juga.

“Kami tidak punya sandi khusus karena berita ini langsung dari Syekh Ahmad Yasin!”

Mendengar nama Syekh Ahmad Yasin disebut-sebut, Aminah langsung menghambur ke kamar Ahmad. Tapi ketika ia masuk, dilihatnya kakaknya itu sedang salat tahajud di atas kursi rodanya. Ditunggunya sampai Ahmad salam.

“Ada pasukan Hamas di luar. Ada berita penting dari Syekh Ahmad Yasin,” ucap Aminah memberitahu dengan suara datar. Tapi wajahnya menampakkan kecemasan. Firasatnya buruk.

“Ya. Suruh saja mereka masuk,” kata Ahmad dengan tenang.

Aminah tidak menjawab. Ia keluar sambil memakai jilbabnya.

“Ya, kalian boleh masuk,” ucapnya sambil membuka pintu.

Tiga orang lelaki dengan ciri khas yang diharapkannya menerobos masuk. Aminah berbalik dan mundur dengan maksud menjaga hijab.

Tapi tanpa diduga sedikitpun sebuah tangan mendekap wajahnya. Belum sempat berbuat apa-apa, ia telah terjerembab ke lantai. Obat bius itu telah bekerja dengan baik. Aminah tak sadarkan diri.
Serdadu-serdadu itu langsung menerobos masuk ke kamar Ahmad, tapi mereka kaget setengah mati. Kamar itu kosong dan sebuah kursi roda terbalik.

“Sialan! Kita ditipu. Di mana keparat itu?” tanya Josh lantang.

“Dan untuk apa kursi roda itu?” sambungnya.

“Cepat laporkan ke Letnan!” perintah Josh.

Edward siap bergerak keluar ketika sebuah suara mencegahnya. “Tunggu! Berbalik dengan sopan dan letakkan senjata kalian di lantai!” Seorang laki-laki bertopeng dengan sebuah senapan serbu siap tembak menghadang di belakang.

Ketiga serdadu terperangah kaget setengah mati.

“Ceeepppaaatt!” Lelaki bertopeng itu berteriak. Dilepaskannya tembakan ke atas. Ketiga orang Israel itu mati ketakutan. Mereka baru percaya akan kelihaian Ahmad seperti yang diceritakan pimpinan mereka. Laki-laki itu ternyata memang ‘Singa Palestina’.

Dengan patuh ketiganya melaksanakan apa yang diperintahkan; melemparkan senjata ke lantai dan mengangkat tangan ke kepala.

“Nah! Sekarang akui bahwa kalian Mossad!” teriak Ahmad lagi.

“Ya!” Josh menjawab. Ia dari tadi sudah gemetaran.

“Sebenarnya saya ingin membebaskan salah seorang dari kalian agar bisa menceritakan tentang kejadian malam ini kepada iblis Rabin. Agar ia tahu siapa kami. Agar ia tahu bahwa orang Palestina bukan golongan pengecut seperti dia.”

Ketiga serdadu itu saling berpandangan. Berharap agar dirinya yang dibebaskan. Melihat hal itu, Ahmad tertawa mengejek.

“Tapi keinginan itu takkan terjadi. Kalian harus mampus di sini. Tak seorangpun diantara kalian yang akan saya bebaskan. Bersiaplah kuffar!”

Lalu dengan rentetan tembakan panjang, Ahmad menghabisi satu persatu dari mereka. Ketiga serdadu itu terjerembab di lantai dengan tubuh bersimbah darah. Setelah itu dengan cepat ia menyadarkan Aminah. Begitu tersadar, gadis itu langsung menghambur dalam pelukan abangnya. Ia menangis. Tapi tiba-tiba ia tertegun.

“Subhanallah! Alhamdulillah! Abang tidak lumpuh lagi,” ucapnya begitu melihat Ahmad sudah mampu berdiri lagi dengan kedua kakinya. Allahu Akbar.

“Ayo Aminah. Kita harus cepat meninggalkan rumah ini. Tolong kumpulkan senjata-senjata itu. Alhamdulillah, banyak ghanimah malam ini. Di luar juga ada sebuah jeep. Kita akan pergi dengan jeep itu. Ayo, cepatlah!”

Aminah langsung bangkit. Dikumpulkannya semua yang masih dapat digunakan untuk jihad. Sesaat kemudian mereka telah berada dalam jeep. Jeep itu melaju cepat meninggalkan tempat itu.

Beberapa menit berlalu ketika jeep itu berhenti di sebuah perkampungan. Ahmad memandang adiknya itu. “Aminah! Tunggu sebentar dalam jeep ini. Aku akan menemui seorang ikhwan tak jauh dari sini. Jangan takut. Di sini tidak ada pasukan Israel. Allah akan melindungimu.”

Aminah mengangguk patuh. Ahmad keluar dan berlari-lari menuju sebuah bangunan.

“Abang…!” Aminah berteriak memanggil. Ahmad berhenti berlari lalu menoleh ke arah jeep.

“Ada apa?” tanyanya cemas.

“Aku mencintaimu karena Allah,” ucap Aminah.

Ahmad tersenyum. “Aku juga, Aminah,” jawabnya lantas kembali berlari.

Di gedung itu ia menemui seorang pemuda teman seperjuangannya. Tak lama ia menunggu, pemuda yang dicarinya keluar.

“Tolong, aku membawa beberapa pucuk senjata. Dan kau perlu tahu, jeep itu sekarang milik Palestina!” kata Ahmad bersemangat.

“Alhamdulillah,” jawab pemuda itu.

Bersamaan dengan itu dari arah jeep terdengar ledakan besar.

Ahmad dan pemuda temannya terpana. Jeep itu hancur berkeping-keping.

Ahmad terperanjat. Jantungnya seperti dilucuti dari tempatnya. Ia berlari mendekati jeep yang terbakar. “Aminaaaaaah!!” teriaknya parau.

Ia bermaksud menghambur ke dalam kobaran api untuk menyelamatkan Aminah. Tapi pemuda itu mencegahnya. “Jangan konyol,” bentaknya. Dicekalnya tangan Ahmad.

Ahmad berbalik. Ia marah dan kesal. Tapi ia segera sadar semuanya adalah takdir Allah. Dipeluknya lelaki itu sambil menangis.

“Tinggal dia satu-satunya, Sad!” isak Ahmad.

Assadullah ikut menitikkan air mata.

“Bukan hanya kau saudaraku. Kita semua sama. Aku kini juga sebatang kara. Ayolah kita masuk. Adikmu kini tentu sedang tersenyum di sorga. Dia sedang menunggu kita!” Assadullah memberikan semangat. Beberapa penduduk yang menyaksikan peristiwa tersebut ikut menghibur.

Ahmad memandang sahabatnya. Dan memandang orang-orang Palestina. Kemudian ia memandang api yang masih berkobar.

“Aminah, tunggu kedatanganku di sorga,” ucapnya dalam hati.[]

Padang, 17 Desember 1993
Dimuat dalam majalah Inthilaq No. 1/Th. II 4 Februari 1994

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Bila Saatnya Tiba"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel